نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

[O Muhammad], inform My servants that it is I who am the Forgiving, the Merciful.

(QS Al Hijr:49)

How sinful I am , and how Merciful is my Allah.

 

Advertisements

“We’re more worry about our heart being broken than breaking others people heart”

– Sh. Omar Suleiman

Terus Bergerak

Hidup itu bukan tentang berdiam diri.
Tetapi mengumpulkan moment untuk beribadah.
Sebagai modal untuk bertemu Allah
– Ust. Subhan Bawazier

Mendengar beliau bertutur demikian, saya langsung teringat kisah Siti
Hajar dan si kecil nabi Ismail Alaihi Salam ketika ditinggal di Makkah
oleh Nabi Ibrahim Alaihi Salam.

Saat nabi Ismail Alaihi Salam kehausan dan Siti Hajar sudah tidak memiliki minuman, Siti Hajar berlari bolak balik ke bukit Shafa kemudian ke bukit Marwa. Sebagai ikhtiar untuk mencari air.
Secara logika, Siti Hajar tidak akan menemukan air di sana.
Tetapi inilah ikhtiar beliau. Dan akhirnya Allah memberikan pertolongan dengan mengeluarkan air zam zam dari kaki nabi Ismail Alaihi Salam.

Dari sini kita mendapatkan ibrah, bahwa sebagai manusia kita harus
selalu aktif. Walaupun mungkin kita berpikir bahwa apa yang kita cari, hasil yang kita inginkan adalah sesuatu yang mustahil, tetapi toh hasil akhir selalu bukan ditentukan oleh kita. Melainkan oleh Allah.

So, Ndari…
Sebagai perempuan, jangan jadi alasan untuk pasif dan berdiam diri ya.
Harus mencontoh Siti Hajar.
Teruslah bergerak, teruslah aktif.
Jadi bekalnya ada untuk bertemu Allah.

Du’a In Need

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

So he watered [their flocks] for them; then he went back to the shade and said, “My Lord, indeed I am, for whatever good You would send down to me, in need.”

(Al Qasas : 24)

Kisah ini diawali dengan nabi Musa Alaihi Salam yang menjadi buronan dari Mesir. Dan pada saat beliau beristirahat, beliau mendapati dua orang perempuan yang menahan ternaknya untuk minum, dengan menunggu penggembala lain selesai meminumkan ternaknya. Kemudian nabi Musa Alaihi Salam membantu.Setelah selesai, tanpa menunggu ucapan terima kasih atau yang lainnya. Beliau kembali beristirahat di bawah pohon. Beliau Berdo’a kepada Allah. Dan do’a tersebut terekam dalam Al Qur’an di surah 28 ayat 24.

Tak lama berselang, pertolongan dari Allah datang melalui kedua perempuan yang tadi di tolongnya. Salah satu dari perempuan tersebut,  menghampiri nabi Musa Alaihi Salam
dan menyampaikan bahwa Ayahanda mereka hendak bertemu. Pada saat bertemu inilah nabi Musa Alaihi Salam ditawari untuk menikah dengan mahar
bekerja kepada sang Ayahanda selama 8 tahun atau digenapkan menjadi 10 tahun.

Do’a yang dipanjatkan nabi Musa Alaihi Salam menunjukkan betapa Beliau berada dalam kebutuhan yang besar. Beliau kelaparan, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki tempat tinggal. Menyadari kondisinya yang demikian maka Beliau bersedia untuk menerima apapun yang akan diberikan Allah untuknya. Dan seketika do’a tersebut terkabul. Tunai jawaban dari Allah untuknya.

Ayat ini salah satu favorit saya. Dan seharusnya menjadi refleksi untuk saya sendiri. Sedang butuh tapi minta sama Allah kadang masing setengah setengah,
masih belum bisa benar benar bersandar dan percaya kalau Allah akan penuhi dengan cara -Nya.
Ya Rabb,..

FJ

– Hello, good morning. How was your sleep?

– Hi, Hello. How are you? Still at office?

Those two questions were your template greeting for me. First greeting was when you about to close your day, while I prepare to start my day. The last one was when I ready to closed my day, and you about to enter new day. Funny this time difference not confuse us.

And yes, I no longer receive those messages. And I miss it. So much.

 

It Is Okay To Be Sad

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
He said, “I only complain of my suffering and my grief to Allah, and I know from Allah that which you do not know.
(QS Yusuf : 86)

Ayat ini adalah salah satu ayat favorit saya.
Ayat tersebut adalah jawaban Nabi Yakub kepada anak anaknya yang sepertinya kesal, karena Nabi Yakub belum move on dari kehilangan Nabi Yusuf. Bahkan Beliau hampir hilang penglihatannya karena terlalu sering menangis, mengingat Nabi Yusuf.

Pas pertama dengar penjelasan ayat ini dari Ust Nouman, agak kaget. Experience nya beda antara pas baca sendiri dan pas dengar beliau menjelaskan. Perasaan sudah pernah baca, tapi tidak bisa memaknai sedalam ini. Giliran Ustadz yang bicara,
langsung menusuk ke hati.

Ust Nouman menjelaskan dengan kekhasan beliau, ayat tersebut menunjukkan bahwa kita boleh bersedih. Kalau sekelas nabi saja bisa bertahun tahun bersedih karena kehilangan puteranya, apalagi kita yang manusia.
Manusia bukan robot, Allah menciptakan kita dengan berbagai macam emosi. Dan kesedihan itu termasuk salah satu emosi.
Jika sedang bersedih, kadang kita mencari nyaman dengan bercerita kepada sahabat, guru, atau orang yang kita anggap lebih bijak. Padahal, mereka belum tentu bisa mengerti kita dengan baik. Mereka mungkin akan mencoba memahami perasaan
kita, try to be in our shoes. Tapi tetap saja, mereka tidak bisa mengerti dan memahami kita sebaik Allah.

Dan pengalaman saya, kalau lagi sedih se sedih sedihnya, saya bahkan tidak sanggup mengungkapkan atau menemukan kalimat yang tepat untuk bercerita. Paling benar memang menghamparkan sajadah, sholat trus udah saja menangis sejadi nya.
Setelah itu lega. Masalahnya mungkin belum selesai tapi satu sisi sudah tenang, sudah lega. Jadi pikiran sudah jernih. Sudah bisa punya perspektif baru dalam menyelesaikan masalah.

#notetoself : Allah super banget. Setiap keadaan manusia, sudah ada contoh nya di Al Qur’an. Tinggal kitanya yang harus bisa mentadaburi.